Minggu ADVENT II, 09 Desember
2008
EV:
Jesaya 63:15-19 Eps:
Wahyu 22:6-12
Kedatangan Tuhan
Dalam kehidupan
nyata tidaklah mudah bagi kita untuk menantikan kedatangan
Tuhan tanpa terlena. Apalagi ketika kedatangan Tuhan
tersebut sesuatu yang belum jelas bentuknya dan sesuatu
yang mungkin masih jauh di depan.Ketika kita harus
menunggu seseorang dalam waktu yang sangat lama dan tidak
terlalu jelas kapan dia datang, kita cenderung menjadi
gelisah dan tidak tahan terus menanti. Sebab dapat timbul
suatu pertanyaan: “Benarkah dia akan datang?” Apakah
penantian yang sedang kulakukan ini tidak sia-sia? Ketika
pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak terjawab maka mulai
timbul benih-benih perasaan pesimistis dan ragu-ragu.
Dalam situasi yang demikian, kita dapat mudah terlena dan
tergoda untuk melakukan berbagai hal yang menyukakan diri.
Jadi bagaimanakah sikap kita yang benar dalam menantikan
kedatangan Tuhan? Apakah yang harus kita lakukan agar kita
tidak terlena dalam hawa-nafsu yang duniawi, sehingga kita
dapat menyambut kedatangan Tuhan dan bertanggungjawab
kepadaNya? Bagaimanakah kita mengimplementasikan nasihat
Tuhan Yesus yang berkata: “Karena itu berjaga-jagalah,
sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang” (Mat.
24:42). Kualitas pekerjaan dan pelayanan kita selama
menantikan kedatangan Tuhan haruslah selalu prima dan
optimal. Sebab kedatangan Tuhan tidak pernah dapat
diramalkan atau diduga terlebih dahulu. Tuhan Yesus
berkata: “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia,
karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak
kamu duga” (Mat. 24:44). Jika demikian, setiap waktu dan
kesempatan yang kita miliki haruslah selalu menghasilkan
suatu karya pelayanan yang bermutu dan teruji. Harapan
dan upaya ini dapat menjadi suatu kenyataan apabila kita
selalu mau berjaga-jaga setiap saat dan terus terarah
kepada satu tujuan utama yaitu Tuhan Yesus Kristus. Jika
demikian, apakah kehidupan dan pelayanan kita saat ini
telah menampakkan syaloom Kristus, sehingga orang-orang
yang berada di sekitar kita dapat merasakan kasih dan
damai-sejahtera Allah? Apakah kita senantiasa mau waspada
dan berhati-hati dalam setiap perkataan dan tingkah-laku
kita? Apakah hidup kita selalu terarah kepada Kristus?
Ataukah hidup kita mudah menyimpang dari Kristus, sehingga
kita cenderung mengikuti kehendak dan keinginan dunia ini?
Marilah kita memaknai masa Adven ini dengan kesediaan diri
untuk menanggalkan semua keinginan duniawi; dan
memperlengkapi diri kita dengan perlengkapan senjata
terang. Barangsiapa berbuat jahat, biarlah dia berbalik,
barangsiapa yang cemar, biarlah dia kudus, dan barangsiapa
yang benar, biarlah terus berbuat kebenaran; barangsiapa
yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya.
Pengajaran dari Kristus yang utama adalah juga kasih dan
perdamaian. Sehingga apabila kita mentaati pengajaran dari
Kristus, maka kita akan membuang segala dosa yang
merintangi kasih dan perdamaian. Jadi sebagai
umat yang telah ditebus, umat Kristen telah dipanggil
oleh Allah untuk mewujudkan syaloom Kristus, sehingga
ketika pada akhir zaman Kristus yang datang sebagai
Hakim, kita dapat mempertanggungjawabkan seluruh karya
kita kepadaNya. Ini berarti dalam masa menantikan
kedatangan Tuhan, sesungguhnya kita dipanggil untuk
berkarya dan mewujudkan syaloom Kristus. Kita tidak
sekedar berjaga-jaga secara pasif dalam menantikan
kedatangan Tuhan. Sebaliknya kita harus senantiasa
berjaga-jaga secara aktif dalam seluruh sikap,
tingkah-laku; dan juga harus selalu waspada dalam
berkarya serta bekerja. Tanpa sikap yang selalu
berjaga-jaga dan waspada, maka kita secara sadar atau
tidak sadar tergoda untuk menyisipkan berbagai kepentingan
diri dan egoisme kita sehingga akhirnya karya kita
tersebut justru merusak syaloom Allah yang
sesungguhnya.Amin.
Pdt. Rastol Hasibuan
|