|
Belajar dari Francis Assisi
(Perjumpaan
Kristen dan Islam Menyelami Kasih Tuhan)
Tahun 1912, Francis Assisi mengadakan perjalanan
ke tanah suci untuk menginjili umat Islam.
Francis Assisi mengalami permasalahan yang berat.
Angkatan perang yang besar dari umat Kristen telah
tiba di Mesir untuk menyerang umat Islam. Umat
Kristen berada di tengah kemelut “Perang Salib”
melawan Turki. Mereka membunuh banyak umat Islam.
Francis melihat benyak sekali yang kelaparan,
anak-anak mati. Lantas ia berpikir bagaimana untuk
menghentikan pembantaian ini?
Lantas ia memutuskan untuk menghadap Kardinal
Pelagius, pemimpin umat Katolik di daerah itu
sekaligus panglima perang Kristen. Ia memohon
kepada Kardinal agar menghentikan peperangan.
Francis mengetakan bahwa banyak orang yang mati.
Dan mereka mati karena ulah umat Kristen. Tapi
Kardinal itu tidak mau mendengarkan. Ia
mengatakan: “Kita membunuh orang-orang ini untuk
tujuan yang baik. Kita harus menaklukkan mereka
agar gereja kita memiliki kuasa. Ketika gereja
kita berkuasa, maka kita akan mampu menaklukkan
iblis.” Namun Francis menjawab: “Tuhan Yesus tidak
pernah berjuang untuk kuasa dunia. Allah justru
mempergunakan kaum lemah, bukan orang yang
berkuasa.” Kardinal itu merasa tersinggung lantas
mengusir Francis dari tempat itu.
Karena ditolak oleh panglima Kristen, Francis
bertekad menjumpai Sultan Al-Kamil, panglima
Muslim. Ia bermaksud untuk memohon perdamaian.
Sultan tersebut adalah seorang yang bengis. Dia
bertekad bahwa tidak akan ada satu pun orang
Kristen yang boleh hidup di muka bumi ini. Tapi
Francis tidak gentar. Ia percaya kematian itu
justru akan menghantarnya tinggal bersama dengan
Tuhan yang dikasihinya itu.
Dengan tenang, Francis berjalan menuju kamp musuh
itu. Tidak ada seorang pun pengawal Muslim yang
mempedulikannya karena tubuhnya yang kecil,
compang-camping dan terlihat miskin. Ketika
Francis melewati mereka, ia tersenyum dan
bertanya, “Kairo? Al-Kamil? Sultan?” Para pengawal
itu menertawakannya lalu menunjukkannya jalan ke
istana sultan.
Ketika mendekat ke pintu gerbang, Francis melihat
sultan tersebut. Sontak, Francis berteriak,
“Sultan! Sultan!. Teriakannya itu mengundang
perhatian sang Sultan. Lantas Sultan itu berhenti
dan terlibat pembicaraan dengan Francis.
Sultan :
“Apakah anda dari kamp Kristen?”
Francis:
“Ya, saya adalah Kristen”
Spontan
seluruh pengawal marah dan menghunus pedang
mereka. Namun sultan itu segera melarangnya.
Sultan: “Hentikan! Bawa ia ke istana. Aku
hendak mengetahui apa yang membawanya ke tempat
ini.”
Setibanya di istana, Francis duduk di lantai di
hadapan sultan.
Sultan:
“Jadi, apakah anda diutus untuk membunuh saya?”
Francis:
“O, tentu tidak. Saya datang ke tempat ini untuk
mengakhiri pertempuran. Panglima Kristen tidak
mendengarkan permintaan saya. Karena itu saya
datang kepada anda.”
Sultan itu
terperanjat. Tidak pernah ada kejadian seperti ini
sebelumnya.
Sultan:
“Siapa namamu, dan darimana asalmu?”
Francis: “Nama saya
Francis, saya berasal dari kota Assisi di Italia”
Sultan:
“Baik, Francis dari Assisi, apa yang kau kehendaki
dari aku? Apakah kau menghendaki aku untuk
menyerahkan Mesir ke tangan musuh dan membiarkan
umat Islam mati kelaparan?”
Francis: “Tentu
tidak. Mesir adalah milikmu. Tapi engkau harus
melakukan sesuatu untuk menghentikan peperangan.”
Sultan:
“Apa itu?”
Francis:
“Kau harus menjadi Kristen”
Lantas sultan
itu tertawa terbahak-bahak. Ia kemudian berkata.
Sultan:
“Menjadi seorang Kristen. Apakah kau tidak tahu
bahwa aku menyiksa umatmu. Apakah kau tidak takut
menderita?”
Francis:
“Tuhan kami menderita bagi kami. Mengapa aku harus
takut?”
Sultan:
“Tuhanmu menderita?”
Francis:
“Ya, Dia menderita agar kita mengerti. Dia
menyerahkan hidup-Nya bagi kita. Itu sebabnya
mengapa aku sangat mengasihi-Nya.”
Sultan:
“Cukup. Tapi mengapa saya harus mengasihi Tuhanmu,
sementara Ia tidak melakukan apa-apa untukku.”
Francis: (Francis menangis) “Oh, Ia melakukannya
untukmu juga. Ia mengasihimu. Ia mengenalmu.
Engkau adalah anak kesayangannya.
Francis
berbicara dengan penuh keyakinan sehingga Sultan
mulai tersadar.
Sultan:
“Apa yang Tuhanmu inginkan untuk kulakukan?”
Francis: “Tidak ada, selain mengasihi Dia. Ia
menginginkan kita untuk mencintai sesama kita dan
membagikan apa yang kita miliki kepada sesama kita.”
Sultan: “Ah, omong kosong. Dulu kami mempunyai
seorang guru yang berbicara mengenai iman, sama
seperti yang kau katakan. Tapi kenyataannya, kami
belum pernah menemukan seorang pun orang Kristen
seperti yang kau katakan. Orang-orang Kristen
adalah bengis dan jahat. Mereka berperang seperti
binatang. Cerita mengenai imanmu itu tidaklah
benar.”
Francis: “Memang ada
orang Kristen yang jahat. Manusia pada dasarnya
adalah makhluk yang lemah. Tapi kasih Allah tidak
terbatas. Melalui Dia, orang yang paling jahat
sekalipun dapat menjadi kudus. Ini hanya dapat
kita temukan di dalam Kekristenan.”
Sultan itu
menarik napas panjang.
Sultan: “Kau boleh pergi sekarang. Aku tidak
akan membunuhmu. Bahkan aku akan memberikan hadiah
kepadamu karena pembicaraan kita yang menarik ini.
Ambil seluruh emas yang bisa kau bawa!”
Francis: “Emas! Aku tidak membutuhkan emas.”
Sultan: “Baik, ini untuk pertama kalinya aku
pernah melihat seorang Kristen yang tidak
menginginkan emas. Apa yang kau inginkan kalau
begitu?
Francis: “Aku sangat ingin mengunjungi
Yerusalem, tanah suci dimana Tuhan kami pernah
hidup ketika Ia berada di dunia ini. Maukah kau
mengijinkan aku kesana?”
Sultan:
“Ya, aku bahkan akan mengirimkan seorang budak
bersama denganmu untuk membawamu melewati
perbatasan. Ingat! Budak itu adalah milikku dan
kau harus mengembalikannya kepadaku.”
Francis: “Aku akan mengirimkannya kembali
kepadamu.”
Francis dan
seorang tawanan Kristen itu lalu meninggalkan
istana Sultan itu. Beberapa hari kemudian Sultan
Al-Kamil berbicara kepada pengawalnya.
Sultan:
“Apakah Francis dan budak Kristen itu telah
kembali?”
Pengawal:
“Belum, belum, Yang Mulia!”
Sultan:
“Aku pikir orang ini berbeda dari yang lainnya.
Aku pikir ia adalah orang Kristen yang benar. Tapi
ternyata aku salah. Mereka adalah sama semua.
Semua adalah orang jahat. Tidak seorangpun menjadi
orang Kristen yang benar.”
Tidak lama
kemudian pengawal itu datang kembali dan bersujud.
Pengawal: “Yang Mulia, aku hanya ingin melaporkan
bahwa budak itu telah kembali.”
Sultan: “Hmm, jadi Francis Assisi memegang
perkataanya. Ia seorang Kristen yang benar.”
Beberapa hari kemudian, pasukan Kristen berhasil
dikalahkan. Sang panglima, Kardinal Pelagius, yang
pernah berharap akan kekuasaan gereja, sekarang
terduduk dengan lesu di hadapan Sultan Al-Kamil.
Kardinal:
“Biarkan 12 ribu pasukanku kembali.”
Sultan:
“Dengar! Aku berjanji bahwa tidak akan ada
seorangpun umat Kristen yang akan hidup. Aku akan
membunuhmu semua. Tidak satupun perkataanmu yang
dapat merubah pikiranku. Tapi beberapa hari yang
lalu, seorang pria bernama Francis dari Assisi
datang kepadaku dari rombonganmu. Aku sangat
menghormatinya.”
Kardinal
Pelagius terbelalak, ia terkejut. Ia mengingat
pria kecil yang menurutnya bodoh itu.
Sultan:
“Ia adalah satu-satunya orang yang perbuatannya
menunjukkan bahwa imanmu adalah benar. Demi dia,
dan demi permintaannya, aku akan membebaskanmu.
Kamu semua boleh pergi, juga seluruh budak Kristen
yang kutawan. Aku ingin Assisi mengingatku untuk
selamanya.”
Kisah ini
diangkat sebagai suatu refleksi bahwa kasih Tuhan
yang tidak terbatas, bahkan sering bertentangan
dengan nilai-nilai yang dipahami oleh masyarakat
kita. Kita sering tertekan dan merasa tidak
berarti ketika kita diperhadapkan dengan kelemahan
dan kesalahan kita di hadapan Tuhan. Masyarakat
dan nilai-nilai yang dimilikinya justru lebih
sering menekan dan menindas sisi kemanusiaan kita.
Ketika yang terjadi di dalam struktur
kemasyarakatan kita adalah “yang menurut kita
baik” dan “yang menurut kita jahat.” Pendeta,
penatua, warga jemaat, kaum intelektual, dan kaum
berduit dikategorikan “yang menurut kita baik”.
Lalu para pelacur, korban penyalahgunaan
obat-obatan, tahanan dan yang terbaring sakit,
kita kategorikan jahat karena keberdosaannya maka
mereka jatuh ke dalam pencobaan. Alam pikiran
masyarakat dan kekristenan kita sering menyerupai
pikiran Kardinal Pelagius yang hendak membangun
kekuasaan di dalam gereja dan kekristenan itu.
Padahal kita lupa bahwa berulangkali, Yesus
mendobrak budaya dan nilai-nilai kemasyarakatan
itu. Kita ingat kisah seorang pelacur yang hendak
dilempari oleh orang banyak. Pelacur itu, dalam
nilai-nilai kemasyarakatan di kala itu memang
layak dilempari karena keberdosaannya. Namun,
Yesus menjungkirbalikkan nilai-nilai dan tradisi
itu. Dengan membawa suatu pesan yang sangat asing
di kala itu, Yesus merubuhkan struktur
kemasyarakatan yang mengikat itu. Pesan yang
dibawakan Yesus sangat kontroversial: “Barangsiapa
di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang
pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
(Yohanes 8:7b) Semua yang mendengar terkejut lalu
pergi. Di dalam hukum kemasyarakatan Yahudi, tidak
akan pernah diketemukan perilaku ini. Hukum
kemasyarakatan tidak pernah mengajak kita untuk
melihat kelemahan kita, melainkan selalu
mengundang kita untuk melihat sisi kelemahan orang
lain.
Kisah ini membawa kita untuk senantiasa merenung
bahwa kerajaan Tuhan justru dialamatkan kepada
“kita” yang selalu merasa diri penuh kenajisan dan
kotor karena hukum kemasyarakatan yang menuntut
kita untuk menjadi “setengah malaikat.” Kerajaan
Allah bukan wahana pembenaran diri, pengumpulan
kekuasaan dan egoitas kemanusiaan kita. Kerajaan
Allah adalah kumpulan kenyataan yang sering
terlewatkan oleh mata dan perhatian kita. Kerajaan
Allah ibarat Francis Assisi yang kurus, miskin dan
compang-camping sehingga tidak terlihat oleh
indera penglihatan kita. Namun di dalam
kesederhanaan, keberdosaan dan ketulusan untuk
menyelamatkan, bukan menghakimi, nyatalah kerajaan
Allah yang sesungguhnya.
Andar
Pasaribu
mahasiswa pasca sarjana di Luther Seminary,
Minnesota
St. Paul, MN,
9 Maret 2006
Kisah Francis Assisi dengan Sultan Al-Kamil
dikutip dari “Blessed are the Meek” by Zofia
Kossak (New York: Roy, 1944)
|