TANTANGAN BAGI HKBP DITENGAH-TENGAH PERBEDAAN

 

 

Pendahuluan

Beberapa tahun terakhir, isu kekerasan agama begitu cepat menyebar ke berbagai lapisan sehingga tercipta kerentanan yang cukup menegangkan. Beberapa peristiwa terorisme yang terjadi di tanah air dan di luar negeri telah merenggangkan kemesraan pemeluk agama tersebut. Menurut hasil-hasil pengkajian yang dilakukan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan (Departemen Agama RI: Konflik Sosial Bernuansa Agama di Indonesia: hl.iv), perkembangan seperti ini bukan semata-mata karena faktor agama itu sendiri, melainkan oleh berbagai sebab yang saling terkait. Pertama, krisis di berbagai bidang yang terjadi beberapa tahun yang lalu, pada akhirnya selain menciptakan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap aparat pemerintahan (birokrasi dan militer) yang selama bertahun-tahun terlanjur memperlihatkan sikap yang kurang mendapat simpati sebagian masyarakat. Kedua, berkembang propaganda-propaganda keagamaan yang semakin menciptakan eksklusifitas dan sensitifitas kepentingan kelompok. Misalnya dilakukan lewat forum-forum khotbah, pengajian, misi-misi agama yang eksklusif dan mengarah ke sektarianisme radikal dan fundamentalistis, dan sebagainya. Ketiga, kesenjangan sosial, ekonomi dan politik. Kesenjangan dalam berbagai bidang ini mempermudah pengikut agama terseret dalam arus persaingan, pertentangan dan bahkan permusuhan antar kelompok. Keempat, mentalitas sosial politik rakyat Indonesia yang cenderung belum memahami sepenuhnya makna demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbagai gesekan seperti kerusuhan, kekerasan, dan manipulasi suara telah mewarnai dimulainya Pilkada (pemilihan kepala daerah). Hal seperti ini tentu sangat berpotensi menimbulkan melebarnya konflik di tengah masyarakat.

 

Suku Batak

Warga HKBP yang sebahagian besar berlatarbelakang dari suku Batak tentu tidak luput dari ancaman di atas. Sejenak kita melihat karakteristik suku Batak dalam kaitannya dengan usaha mewaspadai ancaman disintegrasi bangsa. Salah satu hal menarik dari suku Batak adalah cita-citanya yang disebut: Hamoraon (kekayaan duniawi), Hagabeon (Memiliki keturunan yang banyak) dan Hasangapon (kewibawaan). Ketiga cita-cita ini menjadi motivasi yang kuat  membentuk karakteristik atau watak orang Batak yang lebih terbuka, dinamis-pragmatis, semangat juang hidup bahkan dalam hal konflik sekalipun.

Semangat kompetitif adalah suatu konsekwensi logis dari cita-cita di tengah masyarakat Batak. Akibatnya suku Batak terbiasa menangani konflik dan mengembangkan kompetisi yang konstruktif. Kompetisi yang konstruktif jelas terlihat dari bertumbuhnya jemaat-jemaat HKBP di seluruh Indonesia bahkan hingga ke luar negeri. Jemaat-jemaat HKBP di Amerika Serikat merupakan konsekuensi logis dari karakteristik keuletan dan semangat juang yang tinggi tersebut.

Walaupun di sisi lain, tidak jarang orang Batak mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan masyarakat dan kultur di luarnya. Cita-cita orang Batak tersebut sering disalahartikan sehingga mengarah kepada sikap arogansi dan superioritas. Keterbukaan, semangat juang dan keberanian orang Batak menghantarkan mereka mampu eksis dan memiliki usaha yang baik di tiap daerah. Walaupun kadang realita ini tidak dibarengi oleh semangat toleransi terhadap suku-suku mayoritas dimana mereka berada. Yang muncul kemudian adalah kecemburuan sosial dari masyarakat sekitarnya. Beberapa peristiwa kerusuhan rasial yang tercatat adalah kerusuhan bernuansa SARA antara orang Batak dan Melayu di Bagansiapiapi pada tanggal 11 Oktober 2001. Kerusuhan tersebut menelan korban jiwa dan harta benda.

Menurut Hans J. Daeng (Hans J Daeng, Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, hl.279-280), ada beberapa hal yang menyebabkan sulitnya mewujudkan sikap toleransi dan simpati antara kaum pendatang dan penduduk asli. Pertama, kurang pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi. Kedua, sifat takut terhadap kebudayaan yang dihadapi. Ketiga, rasa superior penduduk dari satu kebudayaan terhadap kebudayaan lainnya. Saya berpendapat, ketiga faktor ini juga cukup melekat dalam diri orang Batak. Salah satunya yang senantiasa didengungkan oleh warga HKBP adalah ungkapan HKBP do HKBP. Ungkapan ini jelas merupakan ungkapan yang “nakal” dan “sempit” jika diimpelementasikan pada situasi kehidupan yang berubah dengan cepat ini. Ungkapan ini seolah mengisyaratkan semangat superioritas yang berlebihan dan keengganan untuk beradaptasi dan belajar dari lingkungannya. 

 

Mewaspadai Ancaman Disintegrasi Bangsa

Kita tidak dapat menutup mata akan kenyataan bahwa di berbagai wilayah lain, konflik horizontal yang  melibatkan warga Batak dan HKBP menunjukkan peningkatan frekwensi. Konflik yang terjadi bahkan sering menimpa diri kita sendiri sebagai warga HKBP. Oleh karena itu, HKBP sebagai organisasi sosial dan keagamaan secara serius dan berkala mencari solusi terhadap permasalahan ini. Salah satu metode yang harus ditempuh adalah pemberdayaan warga melalui wadah pendidikan. HKBP memahami makna pendidikan sebagai suatu kebersamaan untuk jangka waktu yang lama atau singkat secara berkelanjutan dimana tiap pribadi dapat berkomunikasi dan saling mengerti untuk mencapai tujuan tertentu.

Oleh karenanya, yang pertama gereja dalam pelayanannya haruslah berani meninggalkan pola-pola lama yang sering menjadikan kita tertutup. Gereja melalui pelayanannya dituntut mampu untuk membawakan nilai-nilai luhur pendidikan yang menjadikan umatnya percaya diri dan terbuka kepada pembaharuan dan perbedaan. Sebagai contoh, khotbah kiranya tidak lagi menjadi uraian ceramah atau bahan kuliah dari mimbar. Namun khotbah yang hidup adalah khotbah yang dapat memberi pencerahan dan pendidikan dalam kehidupan riil warganya. Pelayanan yang hidup adalah pelayanan yang menjadikan warganya menjadi lebih cerdas dan terbuka kepada perbedaan. Konflik yang selama ini terjadi baik di HKBP dan di lembaga-lembaga lainnya jelas didasarkan atas ketidakmampuan kita mengelola perbedaan yang ada dengan bijaksana. Apakah ini karena kurangnya pendidikan di HKBP, mari kita menjawabnya di dalam hati kita masing-masing.

Kedua, muatan pendidikan yang diperkenalkan di tiap keluarga diharapkan mampu memenuhi visi HKBP  sebagai gereja yang berkembang menjadi gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka serta mampu mengembangkan kehidupan yang bermutu dalam kasih Tuhan Yesus Kristus bersama-sama dengan orang lain dalam masyarakat global. Kongkritnya, sejak dini telah ditanamkan suatu kesadaran kepada setiap anggota keluarga secara khusus generasi muda, bahwa seluruh umat manusia adalah ciptaan Tuhan dan semuanya berharga di mata Tuhan. Sejatinya, warna kulit, bentuk mata, bahasa, agama dan adat istiadat tidak lagi membawa prasangka rasial yang mengarah kepada konflik. Ketika yang muncul adalah semangat egaliter, maka seluruh keluarga Batak dan HKBP akan mampu keluar dari dirinya sendiri dan menerima kehadiran orang lain secara utuh.

Ketiga, HKBP juga harus mampu memahami bahwa tidak ada kerusuhan yang disebabkan oleh agama. Yang ditemukan adalah kerusuhan yang dipicu oleh conflict of interest dari sekelompok orang yang mempergunakan emosi maupun sentimen agama dan ras untuk mencapai tujuannya. Untuk itu,  HKBP bersama dengan elemen-elemen masyarakat lainnya harus senantiasa mengambil langkah-langkah antisipatif melalui pembinaan dan pendidikan warga berdasarkan nilai-nilai kultural yang hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai ini selama berabad-abad telah terbukti menciptakan hubungan persaudaraan dan saling menghargai, sehingga interaksi sosial yang dinamis antara seluruh lapisan dan golongan masyarakat dapat berlangsung.

 

 

Minnesota, 15 Juli 2005

Andar Pasaribu