Rabu, 04 Februari 2004 - 03:58 WIB

Allah Sabar Menunggu Saya

Dari pulau garam saya dilahirkan. Terbilang keluarga sederhana. Dari segi kehidupan rohani atau masalah keagamaan saya mungkin masuk dalam kategori muslim abangan yang tidak terlalu taat dan kurang peduli pada agama.

Namun sebagai orang Madura, walaupun saya tidak terlalu taat, kalau mendengar tentang agama, maka Islam identik dengan kehidupan saya dari segi identitas. Jadi Islam tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, walau sebenarnya saya tidak terlalu peduli pada ajaran dan praktek ajarannya serta hal-hal yang berbau rohani.

Kepedulian terhadap hal-hal rohani itu baru timbul justru setelah saya mengalami berbagai penyakit yang hampir saja mendatangkan ajal. Saya merasa bahwa Allah Maha Sabar. Dia menunggu saya dan tentunya menunggu semua orang yang mau peduli pada panggilanNya.  Kesabaran Allah itu sangat nyata ketika suatu saat (tahun 1989) saya mengalami sakit yang luar biasa di bagian perut. Rasa sakit ini benar-benar sakit yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Sebuah benjolan sebesar apel bersarang di bagian kanan perut saya sebelah bawah.

Sebagai orang kampung yang sederhana jalan alternatif penyembuhannya adalah dukun dan orang pintar yang dianggap sakti. Puluhan dukun sudah didatangkan, tapi bukan malah membuat saya sembuh malah sebaliknya. Sementara setiap saya mendatangkan "tabib" itu, saya harus merogoh kantung sebagai tanda jasa. Akhirnya semakin lama saya semakin putus asa, bukan hanya karena penyakit saya yang tidak kunjung sembuh, tapi saya semakin banyak hutang.

Dalam keadaan itulah saya diberitahu tentang seorang Nasrani yang katanya bisa "menyembuhkan" orang sakit. Sebenarnya mendengar kata Nasrani saja bagi saya kurang senang walaupun saya tidak taat dalam agama saya. Tapi karena saya kehabisan uang dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, maka dengan berat hati saya menyuruh adik saya menjemput orang Nasrani itu untuk minta didoakan. Dan memang orang Nasrani itu datang dan mendoakan saya. Tapi sebelum ia mendoakan ada syarat yang harus saya lakukan yaitu saya harus percaya pada Isa Almasih dan berdoa, "Isa Almasih, tolong sembuhkan saya."

Tapi bagi saya syarat tersebut terasa berat. Namun karena saya sudah putus asa akhirnya saya turuti saja. Ya, maklum sudah 12 bulan saya berbaring di tempat tidur dan bahkan rasanya sudah mau mati saja. Setelah dua hari saya didoakan oleh orang Nasrani itu ternyata saya mengalami kesembuhan. Tentu saja keluarga saya sangat heran. Tapi rupanya mereka senang juga melihat kesembuhan saya, meskipun harus menerima kenyataan bahwa saya disembuhkan karena Isa Almasih.

Setelah kesembuhan itu, saya tetap tidak mau percaya pada Isa Almasih, apalagi mempercayai orang Nasrani tersebut. Pasalnya, menurut saya, saya dapat sembuh itu bukan karena orang Nasrani itu atau karena doa-doanya, tapi karena Allah. Kalau Allah mau menyembuhkan ya pasti sembuh, kalau tidak, ya tidak, habis perkara ! Setelah sembuh saya bekerja seperti biasa di ladang menjadi petani dan betul-betul melupakan penyakit dan proses kesembuhan saya itu.

Setengah tahun kemudian di suatu pagi tiba-tiba saya sulit menggerakkan kaki. Semakin kuat saya menggerakkannya maka rasa sakit dan ngilu yang luar biasa semakin saya rasakan. Saya pun mengalami lumpuh. "Arapah Guste Pengiran ma'aberri' cobian pole ka sengko ? (Mengapa Allah memberi cobaan lagi kepada saya ?)" begitulah saya berseru pada Allah, dalam bahasa Madura. Seperti dulu saya pun kembali mencari dukun-dukun yang saya anggap dapat menyembuhkan kelumpuhan saya. Bagi saya dukun adalah pencarian jalan keluar dari krisis hidup saya, dan Allah yang menentukan kesembuhan saya. Selain itu syarat lain seperti kebiasaan di kampung saya bila ingin sembuh dari kelumpuhan itu harus makan dedak (halus-halusnya padi atau jagung setelah digiling). Dan semuanya saya lakukan untuk mencari kesembuhan. Namun secara tradisional itu juga tidak memberikan hasil.

Sudah sekitar empat bulan saya mengalami kelumpuhan, dan keluarga saya menyarankan supaya saya dibawa ke Puskesmas. Dan menurut dokter Puskesmas yang memeriksa saya, urat-urat kaki saya itu katanya mengkerut dan akhirnya disuntik. Tapi sayang usaha ini pun tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya minta tolong kepada adik saya untuk kembali mendatangkan orang Nasrani yang dulu pernah mendoakan saya. Alasannya sama seperti sebelumnya saya kehabisan duit dan putus asa karena saya tidak kunjung sembuh.

Setelah didoakan yang prosesnya sama dengan sebelumnya, akhirnya saya sembuh. Tapi proses kesembuhan penyakit lumpuh saya ini lebih mengherankan saya, dan bahkan tetangga saya, karena hanya dengan berdoa serta menggunakan minyak kelapa yang kemudian dipukulkan ke betis saya, lalu saya disuruhnya berlari. Ternyata saya langsung bisa berlari. Saya sembuh. Tapi banyak orang yang melihat mujizat tersebut tidak mau percaya kepada Isa Almasih termasuk saya. Alasannya sama, bagi saya orang yang mendoakan itu cuma sebagai syarat saja, tapi yang menyembuhkan adalah Allah.

Selang satu tahun dari kesembuhan lumpuh itu, tiba-tiba penyakit yang pertama, yaitu sakit di bagian perut kembali kambuh. Entah kenapa setiap sakit, saya tidak mau langsung datang kepada orang Nasrani. Soalnya, yaitu tadi, saya tidak percaya bahwa Isa Almasih bisa menyembuhkan saya, tapi yang menyembuhkan adalah Allah sendiri. Sementara penyakit perut yang saya alami benar-benar menggerogoti tubuh saya, sehingga badan saya kurus bahkan seperti tengkorak hidup saja.

Seperti biasa saya pun kembali mencari dukun dan orang pintar untuk mengobati penyakit perut itu. Tapi seperti yang sudah-sudah tidak ada hasil. Kalau saya hitung-hitung, mungkin sudah puluhan dukun dan orang pintar yang berusaha untuk mengobati saya. Saya benar-benar putus asa. Kemudian adik saya kembali menawarkan kepada saya untuk mengundang orang Nasrani itu supaya mendoakan saya lagi. Sebenarnya kali ketiga ini saya merasa malu, karena orang Nasrani itu tidak pernah mau menerima upah. Alasannya, kuasa untuk menyembuhkan orang sakit itu didapatnya dari Isa Almasih dengan cuma-cuma, sehingga ketika menggunakan kuasa itu harus dengan cuma-cuma juga. "Upahnya di surga," kata orang Nasrani itu. Setelah didoakan, ternyata saya sembuh kembali.

Tapi dengan kesembuhan dari penyakit yang membuat saya menderita ini, masih saja saya tidak percaya kepada Isa Almasih. Terkadang kalau saya ingat-ingat sekarang, saya malu sendiri oleh Isa Almasih, sebab sudah tiga kali saya mengalami mujizat langsung atas doa yang dipanjatkan dalam nama Isa Almasih : yaitu, "Isa Almasih, tolong, sembuhkan penyakit saya.". Namun saya tidak percaya juga pada kuasaNya, sehingga sampai di suatu saat saya terserang penyakit untuk keempat kalinya. Di dalam tenggorokan saya seperti ada sesuatu yang mengganjal.

Saya sangat sulit menelan, dan kalau saya paksakan sakitnya luar biasa. Yang dapat saya lakukan hanya minum air yang banyak dan makan bubur yang sangat halus. Tapi saya menelan barang halus itu sambil menahan sakit. Kini saya tidak punya apa-apa lagi untuk pergi ke dukun atau orang pintar. Akibatnya dengan sangat terpaksa saya menggadaikan sebidang sawah untuk mencari dukun. Tapi tetap saja tidak berhasil.

Akhirnya saya mendengar ada seorang yang dianggap pintar di daerah Malang Selatan. Saya datang juga ke rumah orang itu. Setelah sampai di rumahnya saya disuruh menginap satu malam. Dan betapa terkejut saya setelah mengetahui bahwa orang itu ternyata orang Nasrani juga. Waktu itu saya berpikir, "Ah, di Jember juga ada orang Nasrani." Namun karena saya menginginkan kesembuhan, saya bersedia untuk didoakan. Herannya, saya disuruh berdoa juga mohon kesembuhan kepada Isa Almasih. Dan keesokan harinya saya disuruh pulang dan disuruh berdoa sendiri di rumah.

Setibanya di rumah, saya mulai berdoa sendiri kepada Isa Almasih, dan setelah dua malam saya berdoa sendiri, tiba-tiba sakit tenggorokan saya itu sembuh total. Nah, dari peristiwa kesembuhan penyakit yang keempat inilah saya mulai berpikir, dan juga setelah mendengar berbagai penjelasan dari orang Nasrani yang mendoakan saya, akhirnya saya menyadari ternyata Isa Almasih bukan hanya nabi atau manusia, tapi Dia adalah Allah yang sampai hari ini tetap hidup. Akhirnya saya mau mengambil keputusan untuk percaya kepada Isa Almasih. Saya merasakan betapa sabarnya Isa Almasih menunggu saya untuk percaya kepadaNya. Walaupun sudah empat kali Isa Almasih menolong saya dengan mujizat yang luar biasa, tapi baru setelah yang keempat kalinya saya mau percaya.

Kesabaran Allah terhadap saya membuat saya semakin takjub kepadaNya.