|
Though He was God, He did not demand and cling to
His rights as God. He made himself nothing He took
the humble position of a slave and appeared in
human form, And in human form He obediently
humbled Himself even further by dying a criminal's
death on a cross". Phil 2:6-8
Kisah
Terciptanya Sajak FootPrints
Tahukah anda cerita di balik terciptanya sajak
'FOOTPRINTS' (Telah diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia dengan judul : Jejak-Jejak kaki).
Sajak tersebut telah menyentuh hati jutaan orang
di seluruh dunia. Namun tidak banyak orang
mengetahui siapa pengarang sajak itu. Juga
tidak banyak orang tahu apa latar belakang
lahirnya sajak itu. Lebih-lebih lagi tidak
banyak orang tahu bahwa sajak yang berjudul 'Jejak'
(aslinya : 'Footprints') sebenarnya adalah buah
pena masa berpacaran di suatu senja di tepi danau.
Pengarang sajak itu adalah Margaret Fishback,
seorang guru sekolah dasar Kristen untuk anak-anak
Indian di Kanada. Margaret sangat pendek dan
kecil untuk ukuran orang Kanada. Tinggi
badannya hanya 147 cm. Tubuhnya ramping dan
wajahnya halus seperti anak kecil. Karena itu
walaupun ia sudah dewasa dan sudah menjadi ibu
guru ia sering diberi karcis untuk anak-anak kalau
berdiri di depan loket atau kalau naik bis.
Margaret dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana
hangat dan penuh kasih. Namun ada beberapa
peristiwa yang terasa pahit dalam kenangan masa
kecilnya. Yang pertama adalah pengalamannya
ketika ia menjadi murid kelas satu sekolah dasar.
Ia mempunyai kenangan buruk tentang gurunya.
Margaret berlogat Jerman karena ayahnya berasal
dari Jerman. Lalu tiap kali Margaret melafalkan
sebuah kata Bahasa Inggris dengan logat Jerman
jari-jari tangannya langsung dipukul oleh
gurunya dengan sebuah tongkat kayu. Tiap hari
jari-jari tangan Margaret memar
kemerah-merahan.'Jangan bicara dengan logat Jerman.
Pakai logat yang betul, kalau tidak ... !' Itulah
ancaman dan amarah yang didengar Margaret setiap
hari.Dan ia sungguh takut. 'Tiap hari aku
berangkat ke sekolah dihantui oleh rasa takut. Aku
heran mengapa aku dimarahi. Apa salahku ? Apa
salahnya orang berbicara dengan logat Jerman ?
Baru kemudian hari aku tahu bahwa pada waktu itu
sedang berlangsung Perang Dunia II, sehingga orang
Jerman dibenci di Amerika dan Kanada,' ucap
Margaret mengenang masa kecilnya.
Kenangan pahit lain yang diingat Margaret adalah
tentang dua teman perempuannya di kelasnya. 'Aku
akrab dengan semua teman dan mereka senang bermain
dengan aku, kecuali dua orang teman perempuan yang
kebetulan berbadan besar. Kedua teman itu
sering menjahati aku. Untung ada seorang
teman laki-laki yang selalu melindungi aku. Namun
pada suatu hari teman laki-laki itu tidak masuk ke
sekolah. Lalu kedua teman perempuan yang berbadan
besar itu menjatuhkan aku dan duduk di atas
perutku sambil menggelitiki aku. Aku kehabisan
nafas. Untung tiba-tiba ada orang yang lewat
sehingga
aku dilepas. Langsung aku lari ketakutan sampai
aku jatuh dan pingsan. Selama beberapa hari aku
terbaring sakit. Tetapi yang lebih parah lagi,
selama beberapa bulan aku ketakutan,' kenang
Margaret.
Juga tentang masa dewasanya Margaret mempunyai
pengalaman yang menakutkan. Pada suatu siang yang
bercuaca buruk, ketika ia sedang mengajar di kelas,
tiba-tiba jendela terbuka dan petir menyambar
sekujur tubuh Margaret. Ia jatuh terpental di
lantai. Setelah dirawat di rumah sakit, ia tetap
mengidap penyakit yang tidak tersembuhkan. Urat
syarafnya terganggu sehingga ia sering bergetar.!
Bukan mustahil semua pengalaman buruk itu turut
mewarnai lahirnya sajak 'Jejak' ini, yang dikarang
oleh Margaret ketika ia sudah mempunyai tunangan
yang bernama Paul. Hari itu Margaret dan
Paul berangkat menuju suatu tempat perkemahan di
utara Toronto untuk memimpin retreat. Di
tengah perjalanan, mereka melewati danau Echo yang
indah. 'Mari kita jalan di pantai,' usul Margaret.
Dengan semangat mereka melepaskan sepatu lalu
berjalan bergandengan tangan di pantai pasir.
Ketika mereka kembali dan berjalan ke arah mobil
mereka, dengan jelas mereka mengenali dua pasang
jejak kaki mereka di pasir pantai. Namun di
tempat-tempat tertentu gelombang air telah
menghapus satu pasang jejak itu. 'Hai Paul,
lihat, jejak kakiku hilang,' seru Margaret.
'Itukah mungkin yang akan terjadi dalam impian
pernikahan kita? Semua cita-cita kita mungkin akan
lenyap disapu gelombang air,' lirih Margaret.
'Jangan berpikir begitu,' protes Paul. 'Aku malah
melihat lambang yang indah. Setelah kita menikah,
yang semula dua akan menjadi satu. Lihat itu, di
situ jejak kaki kita masih ada lengkap dua pasang.'
Mereka berjalan terus. 'Paul, lihat, di sini
jejakku hilang lagi.' Paul menatap Margaret dengan
tajam, 'Margie jalan hidup kita dipelihara Tuhan.
Pada saat yang susah, ketika kita sendiri tidak
bisa berjalan, nanti Tuhan akan mengangkat kita.
Seperti begini...' Lalu Paul mengangkat tubuh
Margaret yang kecil dan ringan itu dan
memutar-mutarnya. Malam itu setibanya mereka di
tempat retret, Margaret yang adalah pengarang
kawakan menggoreskan pena dan menuangkan ilham
pengalamannya tadi di pantai. Kalimat demi kalimat
mengalir. Dicoretnya sebuah kalimat, diubahnya
kalimat yang lain. Ia berpikir, menulis, termenung,
mencoret, menulis lagi, termenung lagi, mencoret
lagi.......Seolah-olah bermimpi, dalam
imajinasinya ia merasa berjalan bersama dengan
Tuhan Yesus di tepi pantai. Ketika berjalan
kembali ia melihat dua pasang jejak kaki, satu
pasang jejaknya
sendiri dan satu pasang jejak Tuhan. Tetapi... dan
seterusnya.
Margaret melihat lonceng. Pukul 3 pagi!
Cepat-cepat diselesaikannya tulisannya, lalu ia
tidur. Keesokan harinya, begitu bangun, ia
langsung membaca ulang tulisannya. Ah, belum ada
judulnya. Margaret berpikir sejenak lalu
membubuhkan judul 'Aku Bermimpi'. Ia mengubah
beberapa kata dan kalimat. Dan lahirlah sajak yang
sekarang kita kenal dengan judul 'Jejak'. Pada
hari itu juga dalam kebaktian, sajak itu dibacakan
Paul. Paul berkata, '... ada saat di mana kita
merasa seolah-olah Tuhan meninggalkan kita.
Musibah menimpa kita dan jalan hidup kita begitu
sulit. Kita bertanya mengapa Tuhan tidak menolong
kita. Sebenarnya Tuhan sedang menolong kita. Tuhan
sedang mengangkat kita.'
Lalu Paul membacakan sajak karya Margaret :
One night I dreamed a dream.
I was walking along the beach with my Lord.
Across the dark sky flashed scenes from my life.
For each scene, I noticed two sets of footprints
in
the sand,
One belong to me and one to my Lord.
When the last scene of my life shot before me,
I looked back at the footprints in the sand.
There was only one set of footprints.
I realized that this was the lowest and the
saddest
times of my life.
This always bothered me and I questioned the Lord
about my dilemma.
'Lord, You told me when I decided to follow,
You would walk and talk with me all the way.
But I'm aware that during the most trouble some
times
of my life,
There is only one set of footprints.
I just don't understand why, when I need You most,
You
leave me.'
He whispered, 'My precious child, I love you and
will
never leave you
never ever, during your trials and testings.
When you saw only one set of footprints,
It was then that I carried you.'
Seluruh peserta retret duduk terpaku mendengarnya.
Mereka termenung menyimak kedalaman arti yang
terkandung sajak itu. Sekarangpun tiap orang
termenung setiap kali membaca sajak itu. Sajak itu
mengajak kita menelusuri perjalanan hidup kita.
Dalam perjalanan itu telapak kaki kita dan telapak
kaki Tuhan Yesus membekas bersebelahan. Tetapi
pada saat-saat dimana musibah menimpa dan
perjalanan menjadi sulit serta berbahaya, ternyata
yang tampak hanya telapak kaki Tuhan. Telapak kaki
kita tidak tampak, padahal telapak kaki Tuhan
membekas dengan jelas. Mana telapak kaki kita ?
Telapak kaki kita tidak ada, sebab pada saat-saat
seperti itu kita sedang diangkat dan digendong
Tuhan.
-GBU-
|