Kesalahan siapa?

Deburan ombak pantai selatan menyeruak masuk ke dalam kamar mengusik ketenanganku membaca.  Aku letakkan buku 'Reason for Hope' yang ditulis oleh Jane Goodall dan menuju ke teras. Angin lembut membelai tubuhku dan sinar matahari sore menerpa air laut memantulkan warna keemasan yang indah.

Aku melihat seorang perempuan berjalan di pantai, sebentar-sebentar ia membungkuk seperti mengambil sesuatu. Hal ini mengingatkan aku pada masa kecilku. Kami tinggal di sebuah kota kecil tidak jauh dari pantai. Tiap hari Minggu ibu mengajak aku dan adikku ke pantai untuk bermain dan berenang. Kami suka bermain pasir dan memungut keong-keong kecil lalu memasukkannya ke dalam ember. Ketika waktu pulang tiba, kami akan mengembalikan keong-keong itu ke laut.

Deburan ombak seperti mengajakku untuk segera menghampirinya & bermain-main bersamanya.   Aku mengganti celana panjangku dengan yang pendek dan berjalan menuju pantai. Hmm ? butir-butir pasir menggelitik telapak kakiku yang telanjang dan riak-riak kecil menyapa ujung-ujung jari kakiku. Aku berjalan sepanjang pantai sambil merasakan belaian angin sore dan menikmati kilauan air laut.

"Selamat sore" sapanya sambil tersenyum.
"Selamat sore, Ibu menginap di hotel ini juga?" tanyaku. Dialah perempuan yang kulihat dari kamar hotel tempatku menginap.
"Ya, waktu anak-anak masih kecil kami sering membawa mereka ke sini, hotel ini adalah hotel favorit keluarga kami, tetapi itu sudah lama sekali ?" perempuan itu tidak melanjutkan kalimatnya, ia mengeluh dan kelihatan sedih. Aku tidak berani bertanya karena baru mengenalnya. Ketika pandangan kami beradu kami saling tersenyum dan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu, kemudian kami saling bercerita tentang keluarga masing-masing dan tak lama kemudian kami telah menjadi akrab.

Kami berjalan lamat-lamat beriringan menyusuri pantai ini. Ibu Arini, namanya, menceritakan tentang salah seorang anak perempuannya, Elizabeth, puteri bungsunya yang baru keluar dari penjara. Dari pergaulan dengan teman-teman yang cukup bebas, akhirnya Elly mengandung. Suaminya ternyata bukanlah seorang laki-laki yang baik, dia seorang pemarah dan suka memukul. Bahkan ketika kandungan Elly berusia 8 bulan, perut Elly ditendang, wajahnya biru, mulutnya berdarah. Kehadiran Anna, puteri mereka, tidaklah mengubah sikap suaminya, bahkan bila Anna menangis, tidak segan-segan dia membanting Anna di tempat tidur atau mengoncang-goncang tempat tidur bayi kecil itu. Ibu Arini pernah meminta agar Elly mengakhiri perkawinannya saja, dia tidak tega melihat Anna babak belur dihajar suaminya, tetapi Elly tidak bisa karena takut.

Ibu Arini hanya bisa berpasrah dalam doa dan berharap agar Tuhan turun tangan untuk menyelamatkan anak dan cucunya. Ketika Anna berumur 2 tahun, Elly akhirnya benar-benar meninggalkan suaminya, ia membawa Anna kembali ke rumah ibu Arini. Tetapi rupanya penderitaan ibu Arini belum selesai karena kemudian datang lagi berita buruk. Elly yang telah mempunyai usaha dengan bantuan seorang teman, tiba-tiba mengatakan akan pindah ke rumah baru dan memulai hidupnya dengan Edy, seorang pria, yang sudah mempunyai istri dan 4 orang anak.

"Hancur hati saya mengetahui peristiwa ini. Saya merasa hidup saya tidak berguna lagi. Saya merasa Tuhan telah meninggalkan saya dan tidak lagi mau tahu dengan saya. Padahal saya telah mengabdi pada-Nya, saya tidak pernah berbuat jahat pada orang lain, saya juga beramal, saya juga aktif dalam pelayanan Gereja bahkan saya berdoa dan ke Gereja tiap hari. Apakah semua ini tidak pernah diperhitungkan oleh Tuhan?" begitu keluhan ibu Arini.

Pandangan ibu Arini semakin jauh ke depan, butir-butir air mata mengalir di pipinya. Aku hanya berdiam diri, tidak tahu harus bagaimana. Dia jauh lebih tua dariku, beban batinnya pastilah sudah begitu berat sehingga bisa bercerita tentang keluarganya padahal kami baru saja berkenalan.

Setelah 4 tahun menjadi istri simpanan pria itu, tiba-tiba ibu Arini mendapat berita baru yang tidak kalah mengejutkan dari berita sebelumnya. Elly diadukan telah menipu Edy dalam bisnis yang mereka jalankan bersama. Buntutnya Elly harus masuk penjara selama empat tahun dan setelah dijalani selama satu tahun, Elly dibebaskan dengan biaya yang tidak sedikit.

Masa-masa yang sulit bagi ibu Arini. Dan mulailah ia mencari-cari apakah ada kutukan dalam keluarganya mau pun keluarga suaminya, apa kekurangannya kepada Tuhan, dan sebenarnya apa yang dikehendaki Tuhan darinya? Ketika tidak ditemui apa yang dicarinya, mulailah ia protes kepada Tuhan. Protes dalam doa tidak juga membuatnya lebih tenang, maka ia meninggalkan Gereja. Ia marah pada Tuhan yang telah dianggapnya tidak adil.

Aku menghela napas panjang, tiba-tiba aku merasakan sesak di dadaku. Matahari telah condong ke barat dan mulai masuk ke peraduan. Air laut tidak lagi berkilauan indah seperti emas, deburan ombak menjadi menakutkan seakan mau menerkam kami. Tiba-tiba aku merasa sangat lelah dan ingin beristirahat. Kami duduk di batang pohon yang tumbang.

Dalam keadaan stress dan kebingungan ibu Arini tidak lagi berpikir secara rasional. Ia mencari-cari kesalahan siapa saja, terutama orang-orang di dekatnya. Ia menyalahkan Elly yang gampang terbujuk, tidak mau mendengarkan tutur katanya, dll. Dan setelah semuanya mentok, maka ia mulai menyalahkan Gereja dan Tuhan. Mengapa ia tidak melihat pada dirinya sendiri? Mungkin saja ibu Arini telah mendidik puterinya dengan cara yang salah, mungkin dia terlalu memanjakan puterinya sehingga ketika dewasa Elly tidak lagi bisa membuat keputusan yang baik bagi dirinya sendiri. Ibu Arini memang menghayati agamanya dengan baik dan benar, tetapi mungkin saja nilai-nilai agama yang dihayatinya tidak ditanamkan kepada Elly sedari kecil dan secara tepat, sehingga Elly tidak lagi takut akan Tuhan dan berbuat semaunya saja.

Aku menggigil ? bukan karena kedinginan tetapi karena ngeri ? aku juga mempunyai anak. Aku merasa telah mendidiknya dengan baik dan benar, tetapi apakah aku sudah sedemikian benarnya hingga aku yakin bahwa anak-anakku kelak bisa menjadi orang yang baik dan berguna?

Matahari sudah semakin tenggelam, air laut mulai pasang. Deburan ombak semakin kencang, menghantam dinding karang memuncratkan air. Akankah aku sekuat batu karang bila ada badai yang menyerjang?


Jakarta, 10 April 2003

Lisa Hendrawan