Penjara 3 tahun Bapak Perdamaian:
Rinaldy Damanik

Pdt Rinaldy Damanik adalah ketua Crisis Center GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) yang mengumpulkan informasi sebab-musabab dan sejarah kerusuhan di Poso. Salah satu kegiatan utama Crisis Center adalah mengevakuasi (penyelamatan) orang Kristen yang terjebak di desa Muslim atau orang Kristen yang menjadi korban kerusuhan, juga menolong warga Muslim yang kebetulan perlu ditolong saat operasi evakuasi. Ia juga adalah tokoh kunci yang ikut menandatangani Perjanjian damai Malino. Ia menjadi tumbal atas carut-marutnya konflik agama dan politik di Indonesia.

Suatu hari dalam sebuah evakuasi, ia dan anak buahnya dicegat, disuruh turun dari iringan kendaraan dan menjauh beberapa puluh meter, lalu aparat melakukan penggeledahan. Setelah "penggeledahan" itulah aparat "menemukan" senjata. Rombongan Damanik diijinkan meneruskan perjalanan. Tak lama kemudian ia menjadi buron atas senjata temuan aparat tersebut. Lewat proses penahanan, persidangan yang berat, akhirnya pengadilan menjatuhkan vonis hukuman penjara 3 tahun dengan tuduhan bersalah membawa senjata api. Padahal dalam sidang-sidangnya, para saksi memberi keterangan yang berbeda satu sama lain.

Selama berbulan-bulan menjalani proses persidangan dan mendekam dalam rumah tahanan, ia sempat keracunan di makanannya. Melihat tanda-tandanya, istrinya sangat yakin bahwa ia sengaja diracun. Ia hampir mati. Sebelum peristiwa itu terjadi ia sempat menolak sejumlah ajakan kompromi. Dalam penjara ia tidak pernah mau anaknya cemas tentang dirinya melainkan untuk pengungsi. Ia berkata,"Saya tidak menderita dalam penjara ini. Mereka yang di pengungsian yang sangat menderita". Ia juga berkata,"Di dalam sini juga ditahan anggota-anggota Laskar 'agama lain' yang ketahuan membawa senjata untuk penyerangan ke desa Kristen. Mereka bergaul baik dengan saya dan menyatakan penyesalan dan meminta maaf pada saya atas tindakan mereka selama ini yang sudah mengingkari nilai-nilai kemanusiaan dan keTuhanan".

Berikut beberapa judul tulisan kesaksian seputar Pdt Rinaldy Damanik dan anaknya:
1. Kesaksian dan Seruan dari Balik Terali Besi (Pengalaman di balik jeruji)
2. Puisi Pdt Rinaldy Damanik untuk Nanda (anaknya) Tercinta
3. Surat seorang Nanda (ungkapan hati Nanda dan kronologi singkat penangkapan Rinaldy Damanik)
4. Wawancara dengan Nanda
5. Lirik lagu2 Nanda Damanik


KESAKSIAN DAN SERUAN DARI BALIK TERALI BESI

(Dalam kunjungan SM kesekian kali ke penjaranya, Rinaldy Damanik menginginkan tulisannya ini bisa dibaca banyak orang dan menjadi pokok doa)

Di dalam kamar tahanan Mabes Polri Jakarta, Minggu subuh, 1 Desember 2002, saya baru bisa tertidur sekitar pukul 04.30WIB; setelah membaca dan mengkoreksi kembali naskah buku Tragedi Kemanusiaan di Poso yang sementara saya tulis.

Rasanya belum lama tertidur, saya terkejut dibangunkan oleh seorang Pria yang tiba-tiba masuk ke kamar tahanan ini. Seingat saya, Pria tersebut berseragam biru tua, berwajah putih bersih, berkacamata bening dan menyandang senjata. Pria tersebut berkata: "Di koran ini ada tulisan seorang hamba Tuhan. Silakan Bapak catat bagian yang diberi tanda merah." Saya tidak sempat berkata-kata, apalagi menanyakan maksudnya, dia sudah pergi. Di dalamnya ada tulisan seorang hamba Tuhan. Memang ada kalimat yang sudah ditandai dengan stabilo merah muda. Seperti ada sesuatu yang mendorong, langsung saya mencatat kalimat-kalimat tersebut. Ketika kalimat demi kalimat saya tuliskan, air mata saya bercucuran. Tiba-tiba muncul kembali kerinduan yang luar biasa untuk segera pulang ke lingkungan Gereja Kristen Sulawesi Tengah, bertemu dengan saudara-saudara saya korban kerusuhan Poso. Pikiran dan hati saya seakan hampa. Sepi dan dingin sekali rasanya. Tetapi tangan saya terus menulis.

Tulisan tersebut sebagai berikut:
Di satu pihak, ada (dan banyak) orang yang rela menjual kebenaran serta harga diri, sekadar agar mampu terus mengapung -bahkan melambung- di zaman dan rezim apapun. Namun sebaliknya, (walau sedikit) ada pula orang, yang karena tak pernah rela melawan kebenaran serta pantang menghianati hati nurani, maka walau zaman telah berganti zaman, terus saja hidupnya merana, bagaikan domba di tengah-tengah serigala. Memang sulit. Sangat sulit. Tapi anda jangan pernah gentar menghadapi kesulitan. Kesulitan itu wajar. Di dunia ini, tidak ada jalan yang mudah dan sederhana untuk mencapai tujuan yang mulia. Seperti tidak ada pula harga yang murah untuk memperoleh sesuatu yang sungguh-sungguh berharga. Kesulitan adalah sesuatu yang melekat pada kebenaran. Bagaikan getah dengan nangka, atau bau pada durian. Tak mungkin terhindarkan.

Karena itu, betapa sulit dan mahal, kita tak punya pilihan lain. Kita harus bersedia menebus "resep" yang mahal itu. Atau terpaksa mengucapkan selamat tinggal kebenaran ! Para pencinta kebenaran harus berjuang ekstra keras untuk menjadi manusia-manusia "berkemauan baja" dan sekaligus "berhati kaca". Berkemauan baja, artinya kokoh dan teguh dalam tekad dan kemauan. Bisa saja dipatahkan seperti orang bisa memancung kepala Yohanes Pembaptis. Tapi mustahil membengkokkan atau membelokkan keyakinannya. Komitmennya kepada kebenaran adalah harga pas. Tanpa diskon.

Namun disamping berkemauan baja, seorang pencinta kebenaran mesti pula berhati kaca. Artinya, dia bersih dari kepentingan dan agenda tersembunyi, khususnya yang terkait dengan kepentingan sendiri. Ia jernih dan bening bagai kaca. Transparan. Dan seperti kaca pula ia peka serta mudah retak. Namun ini sama sekali bukan tanda kelemahan, melainkan justru tanda kelebihan dan kekuatan. Hati seorang pencinta kebenaran adalah hati yang mudah sekali tergetar, tergores, bahkan retak oleh hadirnya ketidakbenaran serta kepalsuan di sekitarnya.

Karenanya, ia tidak bisa diam. Amat mungkin dalam banyak keadaan mulutnya bungkam. Tapi hatinya tak bisa diam. Tak pernah bisa diam. Penuh perlawanan.

Ketika saya selesai menuliskan kata terakhir, tiba-tiba Pria yang tadi datang membawa koran tersebut, kembali masuk ke kamar tahanan saya. Dengan cepat Dia mengambil koran tersebut. Dia berkata:"Sudah selesai. Pak Pendeta boleh menangis tapi harus tetap kuat. Jangan tanya siapa Saya, nanti akan tahu sendiri. Permisi!" Saya sempat berkata:"Pak...". Tetapi dengan cepat dia berkata:"Bapak jangan dulu keluar dari kamar. Ini perintah!" Dia menutup pintu kamar dan pergi.

Suara itu terdengar tegas tapi lembut dan berwibawa. Saya heran, karena Dia mengetahui secara persis bahwa saya telah selesai menulis kata terakhir dari tulisan tersebut. Saya duduk di atas tempat tidur dan mengamati kembali tulisan tersebut. Tanpa saya sadari, saya tertidur kembali dan baru terbangun sekitar pukul 09.45 WIB. Ketika saya keluar dari kamar tahanan saya bertanya kepada seorang tahanan bernama Boy, yang selalu tidur di lorong dekat pintu kamar tahanan saya. Saya juga bertanya kepada beberapa tahanan yang lain. Tetapi tidak seorangpun yang melihat Pria yang masuk ke kamar tahanan saya. Memang ada sejumlah aparat dari kesatuan Gegana di ruang tamu yang sementara menjaga Imam Samudra, tersangka kasus bom Bali. Tetapi tidak seorangpun yang berciri-ciri seperti aparat tersebut di atas. Seorang penjata tahanan mengatakan bahwa aparat atau siapapun tidak boleh membawa senjata masuk ke kamar tahanan dan tidak ada yang memakai kacamata bening.

Saya tidak memperoleh jawaban pasti dan berhenti mempersoalkannya, karena tidak ingin mengusik ketenangan para tahanan. Saya simpan peristiwa itu di dalam hati dan saya renungkan.

Beberapa hari kemudian, Jumat 6 Desember 2002, saya kembali tersentak. Di ruang olah raga tahanan, dua orang aparat Gegana bercerita kepada kami para tahanan bahwa Imam Samudra bertanya kepada mereka mengenai seorang Pria aparat yang datang dan berbicara dengan dia. Menurut Imam Samudra, aparat tersebut pintar, lembut, berwajah putih bersih dan berkacamata bening. Tetapi Imam Samudra tidak menceritakan isi percakapan mereka. Kedua orang aparat Gegana tersebut terkejut heran ketika saya menceritakan peristiwa yang saya alami, apalagi ciri-ciri aparat yang datang ke kamar tahanan saya, sama persis dengan yang datang dan berbicara dengan Imam Samudra. Tetapi mereka juga mengatakan bahwa tidak ada kesatuan Gegana yang berciri-ciri seperti itu.

Saya sangat ingin mengetahui isi percakapan Imam Samudra dengan aparat misterius tersebut. Tetapi sore harinya, tiba-tiba Imam Samudra diterbangkan ke Bali untuk proses hukum yang harus dihadapinya. Kami hanya sempat berjabatan tangan dan saya mengucapkan selamat jalan, karena beberapa hari sebelum peristiwa misterius tersebut, kami pernah bertegur sapa.

Surat ini sudah terlalu panjang. Tetapi ada beberapa hal yang perlu kita renungkan bersama. Peristiwa yang saya alami terjadi pada hari Minggu, yaitu hari umat Kristen beribadah jemaat dan tepat pada Minggu Advent yang pertama sebelum Natal. Peristiwa yang dialami Imam Samudra terjadi pada hari Jumat, yaitu hari sembahyang berjamaah umat Islam dan tepat pada Hari Raya Idul Fitri.

Siapa Pria misterius itu? Saya merenungkan peristiwa itu di dalam ucapan syukur kepada Tuhan. Bagi saya, peristiwa dan substansi tulisan tersebut merupakan peringatan keras dan kekuatan untuk instropeksi diri, serta keteguhan tekad untuk mengayunkan langkah berikutnya.

Tidak akan pernah ada lagi kata mundur dari pelayanan! Kita harus bersatu teguh menyatakan kebenaran! Berhentilah saling mempersalahkan satu dengan yang lain. Berhentilah semua bentuk pementingan diri sendiri, keluarga, kelompok dan denominasi. Berhentilah semua perbuatan tercela, mabuk, selingkuh, menyebar fitnah, iri dan dengki, korupsi, dan sebagainya. Berhentilah semua tindakan kekerasan. Berhentilah tutur kata dan sikap yang terkesan memperebutkan kewibawaan, kehormatan dan simpati di atas
singgasana. Berhentilah mencari kekayaan, fasilitas dan keuntungan dari penderitaan orang lain.

Sebab, bagaimana mungkin kita dapat memperjuangkan keadilan dan kebenaran jika di tubuh kita sendiri masih dinodai oleh ketidakadilan dan ketidakbenaran? Hadir dan bertindaklah secara nyata dengan penuh kerendahan hati di tengah-tengah penderitaan masyarakat. Beranilah menyatakan kebenaran meskipun mengalami resiko seperti Yohanes Pembaptis yang dipenjarakan dan kepalanya dipenggal karena kritik kerasnya terhadap kebobrokan moralitas pemerintahan raja Herodes. Bersama-sama kita mengintrospeksi diri dalam pengakuan yang tulus dan jujur kepada Tuhan. Kita mantapkan tekad untuk memperbaharui diri dalam tindakan nyata.

Karena itu, kita harus mempunyai komitmen bahwa kita tidak akan pernah dan tidak akan bisa pindah ke lain hati. Karena itu, berakhirlah semua senyum dan tawa yang hanya sekedar pelengkap sempurnanya sebuah sandiwara iman. Tuhan hadir dan mengetahui semua detik-detik peristiwa kehidupan. Tuhan adalah kebenaran sejati dan abadi. Tuhan maha pengampun. Tuhan menganugerahkan damai yang memberi kemampuan dahsyat kepada kita untuk menghadapi berbagai kemelut dan tantangan.

 

PUISI RINALDY DAMANIK UNTUK NANDA

Ketika aku memutuskan pergi, kau sementara terbaring sakit.
Kini, aku ingin memberimu sesuatu yang pasti dapat kau lakukan

Jika kau harus menangis karena diriku,

berikanlah air matamu untuk saudara-saudaramu di pengungsian.
* Jika kau rindu menatapku,
lihatlah diriku dalam kakak-kakakmu korban kerusuhan yang sangat kukenal dan kucintai itu.
* Jika kau rindu memelukku,
kau dapat selalu memelukku dengan mengulurkan tanganmu untuk membelai anak-anak pengungsian yang merindukan kebebasan tidur, bermain, dan belajar.
* Jika kau merasa tak mampu hidup tanpa diriku,
biarkanlah aku hidup terus dalam doamu, pikiranmu, tutur katamu, nyanyianmu, senyummu, dan perilaku baikmu.
* Jika candaku, senyumku, tawaku, diamku, marahku, nyanyianku, dan tanganku yang selalu membelaimu telah terkurung,
yang tersisa dariku adalah doa dan harapanku untukmu.
* Jika diriku telah dipenjara entah untuk berapa lama,
percayalah, walau sedetikpun kasih setia Kristus tidak dapat dipenjarakan.
* Jika kau telah membaca semua ini, pastilah kau ingin mengatakan sesuatu padaku,
tetapi katakanlah itu dalam nada dan lagu damai untuk semua orang.
* Jika kau bertanya dimana aku berada, maka kujawab:
"Aku sementara mengarungi kegelapan malam
untuk menggapai surya pagi dengan tidak merasa dihianati oleh siapapun juga dan dengan tanpa mengorbankan siapapun juga.
Anakku, relakanlah aku yang terpidana... Immanuel !

Pdt Rinaldy Damanik
Papa Nanda
Di Rumah Tahanan Negara
Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia - Jakarta.


SURAT SEORANG NANDA

Sangat sedih itu pasti. Betapa tidak, papaku dipenjara cukup lama. Jika ada seseorang yang bertanya padaku, mengapa beliau dipenjara, aku jadi bingung. Yang kutahu selama ini ia hanya mengevakuasi pengungsi korban kerusuhan. Itu sebabnya aku bingung, orang mengevakuasi kok dipenjara?

Sebenarnya aku tinggal di Jawa sejak TK sampai kelas 6 SD. Papa memenuhi sebuah panggilan untuk melayani di Sulawesi. Tak lama kemudian kerusuhan meletus. Papa terjun menolong korban kerusuhan lewat Crisis Centre hingga harus berpisah denganku dan mama selama 3 tahun.

Aku tahu perpisahan yang lama itu karena panggilan yang harus Papa jawab dari Tuhan. Dia adalah seorang pendeta yang baik dan penuh perhatian terhadap sesamanya. Dia seorang suami yang baik. Dan yang terutama bagiku adalah, dia adalah seorang ayah yang baik. Papaku memang memberikan didikan yang keras padaku sejak kecil. Tapi aku tahu, itu semua demi kebaikanku dan karena dia menyayangiku. Oleh karena itu aku merasa sangat kehilangan dia.

Aku telah ditinggal mati oleh adik laki-lakiku pada tahun 1998. Ia masih kecil waktu itu. Itu adalah saat yang sangat tak terlupakan dan sangat menyakitkan. Aku dan mama menyusul Papa di Poso setelah 3 tahun berpisah. Tapi kami jarang berkumpul, karena papa sibuk mengurusi korban kerusuhan. Tapi itupun juga tak lama. Papa mendapat panggilan dari polisi atas tuduhan membawa senjata, padahal ia hanya mengevakuasi korban kerusuhan. Tak lama helikopter datang di kotaku. Helikopter itu datang untuk
menangkap papa. Massa dalam jumlah sangat besar berkumpul berusaha mencegah penangkapan itu. Aku melihat mama menangis. Lalu papa mendekatiku dan berkata,"Kalau papa jadi ditangkap, Nanda harus belajar yang baik, ya!" Untung helikopter itu tidak jadi turun. Papaku makin terancam. Ia akan dibunuh.

Pihak kepolisian menyatakan bahwa kehadiran papa diperlukan untuk menjadi saksi. Sehingga suatu saat papa memutuskan untuk pergi menyerahkan diri sebagai saksi, karena dia tak bersalah. Maksudnya agar masalah diperjelas. Pada saat itu malam hari dan aku sedang tertidur. Saat itulah papa memutuskan untuk pergi. Aku setengah sadar waktu papa pamit. Aku melihat mama menangis.

Sampai di tengah jalan, mobil yang ditumpangi papa dan teman-temannya ditahan oleh massa. Mereka tidak menghendaki papa pergi. Kepergian papa tertunda sampai besoknya. Pagi-pagi papa pergi. Aku jatuh sakit. Saat sakit itulah papa mengirim puisi yang ditulisnya di penjara Mabes Polri Jakarta. Karena panggilan sebagai saksi, tanggal 10 September 2002 papa datang memenuhi panggilan itu ke Mabes Polri Jakarta. Tanggal 11 September 2002 papa langsung ditahan dan statusnya berubah menjadi tersangka pembawa senjata api yang jelas tidak dilakukannya. Rupanya pemanggilan dengan status saksi hanyalah pancingan.

Kasihan papa. Ia difitnah dan dipenjara. Aku dan mama harus tinggal bersembunyi dari satu kota ke kota lain untuk berlindung dari teror. Namun akhirnya mama memutuskan untuk kembali ke Tentena. Hanya Tuhan tempat kami berlindung dan apapun resikonya harus kami hadapi. Akhirnya berkas kasus papa dilimpahkan ke kepolisian Palu.

Tanggal 22 Desember 2002 ia di bawa ke Palu. Papa adalah orang yang teguh dalam pendiriannya. Ia tidak mau diajak kompromi untuk menjual kebenaran. Hingga suatu hari di penjara, papa keracunan. Baru beberapa suap nasi masuk ke perutnya, ia sekarat. Ia hampir mati. Ia berak darah selama tiga hari dan lidahnya memutih. Melihat tanda-tanda keracunannya mama sangat yakin bahwa papa sengaja diracun. Kasihan benar papa.

Dari balik terali besi, papa mendukungku untuk menyelesaikan rekaman album lagu rohaniku berjudul Damaikan Tanah Poso. Salah satu laguku berjudul Papa kupersembahkan untuknya. Semua hasil penjualan kasetku ini kami gunakan untuk membantu keperluan proses persidangan papa. Sekarang aku telah menelurkan album kedua yang bercerita sama seputar harapan perdamaian di Poso.

Selama masa persidangan di kota Palu papa sempat jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Beberapa waktu lalu vonis telah dijatuhkan pada papa atas tuduhan membawa senjata api dan papa dijatuhi hukuman penjara 3 tahun. Saat putusan dijatuhkan, masyarakat Tentena akan melaksanakan demonstrasi massal. Tapi dengan bijaksana papa menghimbau mereka untuk tenang. Mungkin papa berencana untuk naik banding. Aku yakin Tuhan akan menunjukkan keadilan di tengah-tengah ketidakadilan pemerintahan di negaraku ini. Yang kami perlukan sekarang adalah dukungan doa saudara-saudari seiman di seluruh dunia.

Terima kasih atas surat-surat yang telah dikirimkan pada papa di penjara dan kepada Nanda yang ditulis oleh saudara-saudari seiman di seluruh Indonesia dan luar negeri lewat SuaraMartir dan juga surat-surat dukungan lewat kedutaan Indonesia di seluruh dunia. Itu sangat menguatkan kami.

Tuhan memberkati.


WAWANCARA DENGAN NANDA (wawancara via telepon)

Apa yang mendorong kamu hingga rekaman lagu 2 album?
*** Itu adalah kerinduan hatiku untuk menyuarakan isi hati melalui talenta yang Tuhan berikan. Aku sudah punya dua album rekaman.

Apa kamu sendiri yang menulis syair-syair dalam kasetmu dalam album volume 1 (SM belum mendengarkan volume 2)?
*** Hanya lagu yang berjudul "Papa" yang aku buat sendiri syairnya.

Ayahmu mengevakuasi korban kerusuhan di Poso, apa pendapatmu tentang tindakan ayahmu ini?
*** Itu tindakan yang luar biasa karena berani menolong korban kerusuhan. Jangankan menolong korban kerusuhan, orang pergi ke daerah konflik Poso saja tidak akan berani (taruhannya mati). Aku rasa itu panggilan Tuhan. Aku mendukung sekali atas tindakan Papa ini.

Papamu ditangkap dan difitnah, bagaimana perasaanmu?
*** Aku merasa jengkel karena saya tahu itu tidak benar bahwa Papa membawa senjata api. Aku selalu berdoa tiap malam untuk Papa supaya ia kuat dan sabar menerima setiap fitnahan itu. Papa banyak mengurusi korban kerusuhan dan para pengungsi dan merasa sayang sama mereka sehingga papa pun menginginkan Nanda juga memberi perhatian pada mereka.

Bagaimana perasaan Nanda menyaksikan korban kerusuhan?
*** Aku pasti sedih karena membayangkan bagaimana jika itu aku yang mengalami. Ada juga teman-teman pengungsi yang sekelas dengan aku. Aku juga punya teman yang orang tuanya mati dalam kerusuhan.

Sekarang kamu kelas berapa?
*** Aku kelas 1 SLTP.

Pelajaran apa yang paling kamu sukai?
***Matematika, karena mengasyikkan.

Apa kamu menghadapi kesulitan dalam belajar pada saat ayahmu dipenjara?
***Aku tidak mengalami kesulitan dalam belajar. Aku cuma mengalami ada perbedaan. Kalo ada papa aku sering minta bantuannya jika ada pelajaran yang sulit. Papa orangnya tegas dan disiplin. Papa juga suka memarahi aku karena terkadang aku sedikit nakal. Tapi papa adalah orang yang penuh perhatian.

Apa yang ingin kamu lakukan ketika kamu dewasa nanti?
***Aku ingin menjadi seorang humanitarian seperti Papa. Melayani semua orang yang membutuhkan pertolongan. Aku ingin menjadi humanitarian karena aku melihat kondisi orang-orang disekitarku memprihatinkan, apalagi kondisi negaraku kacau sekali.

Apa kamu mempunyai ayat yang menjadi kesukaanmu di Alkitab? Mengapa?
***Yesaya 41:10. "Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."

Kegiatan apa saja yang kamu lakukan di luar kegiatan sekolah?
*** Aku berkeliling menyanyi di gereja-gereja pengungsian setiap hari Minggu untuk menghibur dan menguatkan iman mereka.

Apa yang kamu lakukan untuk membantu ibumu?
*** Karena aku masih sekolah, aku belajar dengan baik dan berusaha memperoleh nilai yang baik.

Apa kamu melihat bahwa Tuhan peduli dalam kehidupanmu?
*** Tuhan selalu peduli dalam kehidupanku karena Tuhan selalu membuka jalan setiap kali aku dan keluargamu menghadapi masalah.

Di masa-masa kamu merasa takut, apa yang kamu lakukan untuk membuat damaimu kembali?
*** Aku membaca Alkitab, khususnya ayat Yesaya 41:10

Doa apa yang kamu ingin minta dari keluarga-keluarga di Amerika bagi kamu dan keluargamu?
*** Aku berharap agar aku sukses dalam pelajaran dan masa remajaku bersinar bagi banyak orang. Aku juga berharap agar mama sabar dan kuat imannya menghadapi tantangan ini. Untuk papa, aku ingin agar ia tetap kuat menghadapi fitnahan.

Apakah ada hal-hal lain yang ingin kamu sampaikan pada teman-teman di seluruh dunia ?
*** Pedulilah pada teman-temanmu yang dalam kesusahan. Selama engkau memiliki kesempatan untuk sekolah, belajarlah yang baik. Tolong doakan negaraku.

Bagaimana jika teman-teman lainnya menghadapi hal yang serupa dengan Nanda dan anak-anak pengungsian?
*** Bergantunglah pada Tuhan.


LIRIK LAGU "PAPA" album volume 1
Cipt: Kinsaw Salua - Syair: Nanda Damanik - Singer: Nanda Damanik

Oh Papa..., Papaku sayang
Mengapa kau tinggalkan daku
Dikala ku dirundung rindu
Hidup sepi jauh darimu
Oh Papa..., Papaku sayang
Kurindukan kasihmu Papa
Ku'ingin belaian cintamu
Hidup mesra di pelukanmu Papa
Reff:
Hanya kepada Tuhan sajalah
Aku berdoa dan bersimpuh untukmu Papa
Papa kapan Kau kembali... padaku
Tuhan dengarkan suara hambaMu
Di dalam doa kuberseru padaMu Tuhan
Tuhan lindungi Papaku... oh Tuhan


LIRIK LAGU "DAMAIKAN TANAH POSO" album volume 1
Cipt: Budi Kayupa - Singer: Nanda Damanik

Butiran embun malam
Menetes ke tanah yang gersang
Mataharipun tak bersinar
Bulan hanya diam membisu
Seribu langkahpun gemetar
Sejuta mata menatap sayu
Jeritan tangis sluruh manusia
Menggores tragedi di tanah ini
Reff:
Tuhan bebaskanlah
Kami dari derita ini
Sinari oh sinari dengan cahya kasihMu
Datanglah... datanglah Tuhan
Damaikan negri kami tercinta tanah Poso
Hapuslah... hapuslah air mata
Yang telah membasahi negri tercinta
Tanah Poso


LIRIK LAGU "DOA IBU DAN AYAH UNTUK PERDAMAIAN" album volume 1
Cipt: Damai Pandjode - Syair: Nanda Damanik - Singer: Nanda Damanik

Di suatu senja hari dikala sang mentari
Memasuki peraduannya
Terdengar bisikan sesayup sampai
Tertunduk ibuku berdoa
Oh... Tuhan yang Kuasa
Berilah kedamaian di antara semua bangsa
Yang dilanda peperangan
Reff:
Terdengar sini sana mesiu nan menggemah
Di antara kegetiran dan kehancuran
Yang melanda
Terdengar sini-sana ratapan dan rintihan
Tiada lagi kedamaian dan pengharapan
Oh Tuhan satu pintaku
Kupanjatkan hanya padaMu
Berilah damaiMu bagi kami segenap umatMu
Ketika ku terjaga dari tidurku yang lelap
Dikala dini hari nan sepi
Terdengar kembali bisikan hati
Bertelut Ayahku berdoa
Oh... Tuhan yang Kuasa
Ajar kami mengerti serta mau menolong
Bagi sesama yang menderita


BERDOALAH AGAR TERANG ITU BERSINAR DI ANTARA SUKU-SUKU BANGSA DI INDONESIA